Direktur Eksekutif IIEE, Dr. Hakimul Batih menjadi Pembicara di Seminar Umum “Green City Indonesia”, Kerja sama Universitas Atma jaya dengan Ekonid (Kamar Dagang Indonesia-Jerman)

| Desember 4, 2015 | 0 Comments

HKB 1

Pada tanggal 3 Desember 2015, Direktur Eksekutif dari Institut Indonesia untuk Ekonomi Energi (IIEE), Dr. Hakimul Batih memberikan paparan tentang “ Renewable Energy Assessment on the Indonesia’s National Energy Planning” pada seminar umum sesi Alternative Energy. Seminar tersebut merupakan salah satu bagian dari rangkaian acara Exhibition & Seminar “Green City Indonesia” yang diselenggarakan oleh Universitas Atma Jaya bekerja sama dengan dengan Ekonid (kamar dagang Indonesia-Jerman). Acara berlangsung selama tiga hari mulai 2 Desember sampai 4 Desember 2015 bertempat di Universitas Atma Jaya, Jakarta. Acara tersebut dihadiri oleh para Profesional, Akademisi dan Mahasiswa dari berbagai institusi.

Tujuan exhibition dan seminar ini adalah untuk menyediakan media edukasi untuk generasi muda terutama murid-murid SMU dan mahasiswa perguruan tinggi juga professional muda, tentang isu terkait Green City seperti sumber energy alternatif, efisiensi energi pada bangunan, pengelolaan sampah, pengolahan air, dan berbagai macam topic menarik. Selain itu, seminar ini ditujukan untuk untuk meningkatkan pemahaman peserta tentang Green City untuk perkembangan secara berkelanjutan dimasa yang akan datang.

Dalam presentasinya, Dr. Batih menjelaskan bahwa dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), disebutkan bahwa KEN menjadi dasar dalam penyusunan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Dalam peraturan tersebut, target pangsa Energi Baru dan Terbarukan (EBT) adalah sebesar sebesar 23% di tahun 2025 dan meningkat menjadi 31% di tahun 2050.

Dr. Batih juga menjelaskan bahwa hingga kini masih terdapat kendala-kendala dalam mewujudkan target EBT tersebut. Dalam proses penyusunan rancangan RUEN, temuan awal menunjukkan untuk target pembangkit EBT masih ada gap sebesar 10 GW antara target di tahun 2025 dengan proyek yang sudah dilaksanakan (committed project). Gap ini diketahui setelah dibuat daftar proyek-proyek yang sudah komitmen sampai dengan tahun 2025 dan dihubungkan dengan target KEN di tahun 2025. Adanya gap 10 GW menunjukan bahwa masih ada proyek potensial untuk pengembangan energi terbarukan. Saat ini pemanfaatan energi terbarukan masih di bawah 10% dari total potensi yang kita miliki, sehingga diperlukan usaha-usaha lebih keras untuk mencapai target pangsa EBT maupun mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan. Salah satu contoh solusi yang diusulkan untuk pengembangan jenis energi terbarukan surya (PLTS) yaitu mendorong peraturan tentang penggunaan panel surya di atap rumah serta insentifnya. Penggunaan panel surya di atap rumah pada kaum urban juga merupakan salah satu potensi yang sangat menjanjikan untuk mendukung konsep green city.

Category: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *